Runyam

Tulisan ini adalah balasan dari tulisan Rumit, Bacalah itu dahulu, agar paham siapa yang memberi luka dan rasa sakit.

Aku tak pernah benar-benar meninggalkan. Terlebih ketika memberi jarak adalah satu-satunya jawaban yang kau sisakan dari sekian banyak pilihan.

Tidak. Aku tak peduli apapun yang tertulis pada garis tangan kita. Selama jemari kita saling erat menggenggam, selama doa kita dirapal siang dan malam, takdirpun kuyakin bisa terpatahkan. Hanya saja, akhir-akhir ini genggamanmu rasanya sungguh terlalu erat, jika kubiarkan maka tanganku yang akan hancur, namun jika kulepaskan maka hatiku yang akan hancur. Maka sebaiknya bagaimana, Sayang? 

Bagaimana aku bisa menjadi yang selalu ada, ketika hadirku bagimu adalah kesalahan. Pun sulit untukku bisa bertahan, ketika satu-satunya pilihan yang kau beri adalah meninggalkan. Padahal seandainya jika kau mengerti, sesungguhnya pergiku hanya untuk memberi jeda atas egomu yang terlampau tinggi.

Sayang, cobalah sesekali berhenti untuk merasa paling. Entah paling benar, atau paling mengerti. Percayalah, sejauh ini yang kau lakukan hanyalah berbicara tanpa memberiku kesempatan bicara. Kau selalu ingin didengarkan tanpa ingin berbalik mendengarkan. Merasa teramat mengerti tanpa seutuhnya memahami. Hingga apa yang terjadi? Ketika aku pergi, ketika itu kau baru merasa butuh untuk mengerti apa yang salah dari kita selama ini.

Berdirilah, Sayang. Tak perlu lututmu menyentuh bumi, coba rebahkan saja kepalamu pada pundakku ini. Dan rasakanlah, pengakuan apalagi yang kau hendaki, ketika degup rasa ini sudah membuncah sedari tadi.

Entah apalagi yang kau pinta, Sayang. Hatiku telah kuberi utuh, sedangkan hatimu kau beri separuh.

Benarkah padaku rasamu berlabuh?

Sayang, entah kau menyadari atau tidak, yang kau percaya selama ini bukan aku melainkan selalu perasaanmu sendiri, yang kau takutkan selama ini bukan pergiku melainkan selalu egomu sendiri. Logikamu telah tertutup oleh prasangka, hingga nalar yang seharusnya memahami justru menjadi akar dari masalah kita.

Maka biarkan aku pergi sejenak. Memberi jarak pada kita agar lebih leluasa bergerak dan memahami rasa. Siapa tahu jarak dapat memanaskan rindu, lalu kita lihat rindu siapa yang terbakar hebat, kau atau aku?

Lagipula, memang sepertinya bukan kisah kita yang runyam. Melainkan ego masing-masing masih saja terlampau tinggi untuk kita redam.

 

Advertisements

One thought on “Runyam”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s