Keras Kepala

Baca "Lovember" dahulu agar kita satu frekuensi.

Aku sadar, aku lancang. Saat pertama kali mengenalmu, saat itu juga aku langsung merutuki waktu. Tak terima mengapa baru sekarang kau hadir dalam hidupku? Mengapa tidak dari dulu? Mengapa tidak waktu itu? Ah. Untung saja protesku tak sampai membuat malaikat Mikail jengah, karena termaafkan oleh rasa syukurku yang berlimpah ruah.

Aku bersyukur, kini bahagiaku tak serumit dahulu. Segalamu mampu menyederhanakannya menjadi potongan-potongan tawa yang bisa kubawa kemana saja. Asal kamu tahu saja, aku jatuh cinta.

Aku paham, kau datang dengan luka yang masih belum sembuh seutuhnya. Pundakmu masih terbebani oleh luka masa lalu, namun sungguh aku tak sedikitpun bergeming oleh ragu. Justru ingin rasanya agar kita bertukar beban, lukamu untukku, rinduku untukmu. Adil bukan?

Aku berharap, puisi sendumu berubah menjadi bahagia karena aku. Sajak-sajak patahmu menjelma menjadi nyanyian rindu karena hadirku, Segala macam tanyamu sirna atas jawaban yang kujinjing dalam sekoper doaku. Karena sekarang, senyummu adalah garis lengkung yang ingin kujaga sempurna, agar tetap terus begitu tanpa cela.

Maka, butuh berapa alinea lagi agar narasi ini mampu membuat semesta percaya?

Namun, jika pertemuan kita adalah perpisahan yang tertunda, mari kita bernego kepada waktu agar penundaan ini menjadi selamanya. Mari kita buktikan bahwa takdir dapat berubah dengan doa. Berharap agar tinta kembali basah, oleh rapalan aamiin dari sepasang yang keras kepala.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s